INDONESIA MERDEKA???
Jangan sekali kali melupakan sejarah (soekarno)
Oleh : RessyRhoneh
Sebuah perkataan yang disampaikan oleh presiden pertama RI, ir Soekarno tentang makna dari sebuah sejarah. sejarah yang menciptakan perasaan nasionalisme dari perjuangan para pahlawan bangsa merebut kemerdekaan dalam perjalanan panjang yang penuh darah dan air mata. Perasaan satu bangsa satu tanah air yang berbhineka tunggal ika. Namun setelah kemerdekaan sudah direbut dari tangan penjajah apakah kemerdekaan sudah kita rasakan???
Sepenggal bait dalam lagu nasib pembantu yang dipopulerkan titi kamal dalam film mendadak dangdut cukup menggambarkan perasaan dari kaum-kaum marginal tentang arti kemerdekaan. sudah 350 tahun kita dijajah oleh penjajah namun penjajahan itu masih tetap ada cuma pelakunya yang berbeda, bangsa sendiri menjajah bangsa sendiri. Sungguh ironis kenyataan bahwa disaat negara-negara lain semacam Iran yang sedang sibuk membangun rumah-rumah gratis untuk warganya kita malah dengan bangga sibuk melakukan penggusuran disana-sini dengan alasan tata kota. Tangan-tangan besi yang tidak berhati merampas secercah harapan dari ribuan warga yang menjadi korban keserakahan.
Di Bolivia, presiden evo morales melakukan nasionalisasi terhadap perusahan-perusahan negara sedangkan kita dengan senang hati melakukan privatisasi BUMN dengan alasan untuk kepentingan negara. BUMN yang seharusnya melayani dan meringankan kepentingan masyarakat dengan subsidi-subsidi hanya bisa menjadi lintah darat karena sudah terinfeksi virus yang namanya bisnis, Virus yang hanya mencari keuntungan semata. Sedangkan Hugo chaves di Venesuela dengan bangga memperkenalkan sistem yang mewajibkan seorang dokter harus menangani minimal 9 orang rakyat miskin, sehingga semua orang mempunyai akses terhadap kesehatan. Sedangkan di Indonesia orang miskin dilarang sakit karena biaya yang sangat mahal yang hanya bisa di akses oleh kaum menengah ke atas. ketika orang-orang kaya dengan sombongnya melakukan perawatan atau pengobatan diluar negeri dengan biaya yang mahal saat itu juga banyak orang miskin yang sedang pusing memikirkan biaya pengobatan, maka jangan heran ketika orang miskin lebih suka mati perlahan dengan penyakitnya dari pada harus membayar sejumlah uang diluar kapasitasnya. Bahkan di venesuela untuk memenuhi kebutuhan dokter biasanya melakukan impor dokter. Hal ini berbanding terbalik dengan Indonesia yang menjadikan manusia sebagai komuditi ekspor berlabel TKI. Bangsa Indonesia adalah bangsa besar, bangsa yang tidak hanya besar secara wilayah dan jumlah penduduk tetapi bangsa yang besar karena sejarahnya. Akankah bangsa ini bisa kembali bersatu, bahu membahu membangun ibu pertiwi atau hanya menjadi bangsa kuli.
Sebuah pepatah cerdas mengatakan Suatu bangsa di hargai karena penghargaan terhadap sejarahnya. Berkaca dari pada itu bangsa ini bisa melakukan perubahan ketika semua warga negara menyadari pentingnya kebersamaan, persatuan dan spirit from the founding father. Bangsa ini sudah kehilangan jati diri, semangat kekeluargaan sudah terkikis oleh sikap individualistik bangsa barat. Kebanggaan sebagai bangsa indonesia semakin pudar ketika medernasisi menggilas budaya lokal sehingga sikap maupun perilaku sudah jauh dari budaya timur. Bahkan nasionalisme yang luntur akibat diskriminasi terhadap beberapa wilayah.
Sebuah pepatah kuno dari prancis L'trisson ces rufete yang artinya sejarah senangtiasa selalu berulang. Dapatkah bangsa ini mengulang memory manis menyatukan perbedaan dalam bingkai NKRI, semoga bangsa ini bisa mengambil momentum kebangkitan dengan spirit from hystori.
Smoga.......
Di Bolivia, presiden evo morales melakukan nasionalisasi terhadap perusahan-perusahan negara sedangkan kita dengan senang hati melakukan privatisasi BUMN dengan alasan untuk kepentingan negara. BUMN yang seharusnya melayani dan meringankan kepentingan masyarakat dengan subsidi-subsidi hanya bisa menjadi lintah darat karena sudah terinfeksi virus yang namanya bisnis, Virus yang hanya mencari keuntungan semata. Sedangkan Hugo chaves di Venesuela dengan bangga memperkenalkan sistem yang mewajibkan seorang dokter harus menangani minimal 9 orang rakyat miskin, sehingga semua orang mempunyai akses terhadap kesehatan. Sedangkan di Indonesia orang miskin dilarang sakit karena biaya yang sangat mahal yang hanya bisa di akses oleh kaum menengah ke atas. ketika orang-orang kaya dengan sombongnya melakukan perawatan atau pengobatan diluar negeri dengan biaya yang mahal saat itu juga banyak orang miskin yang sedang pusing memikirkan biaya pengobatan, maka jangan heran ketika orang miskin lebih suka mati perlahan dengan penyakitnya dari pada harus membayar sejumlah uang diluar kapasitasnya. Bahkan di venesuela untuk memenuhi kebutuhan dokter biasanya melakukan impor dokter. Hal ini berbanding terbalik dengan Indonesia yang menjadikan manusia sebagai komuditi ekspor berlabel TKI. Bangsa Indonesia adalah bangsa besar, bangsa yang tidak hanya besar secara wilayah dan jumlah penduduk tetapi bangsa yang besar karena sejarahnya. Akankah bangsa ini bisa kembali bersatu, bahu membahu membangun ibu pertiwi atau hanya menjadi bangsa kuli.
Sebuah pepatah cerdas mengatakan Suatu bangsa di hargai karena penghargaan terhadap sejarahnya. Berkaca dari pada itu bangsa ini bisa melakukan perubahan ketika semua warga negara menyadari pentingnya kebersamaan, persatuan dan spirit from the founding father. Bangsa ini sudah kehilangan jati diri, semangat kekeluargaan sudah terkikis oleh sikap individualistik bangsa barat. Kebanggaan sebagai bangsa indonesia semakin pudar ketika medernasisi menggilas budaya lokal sehingga sikap maupun perilaku sudah jauh dari budaya timur. Bahkan nasionalisme yang luntur akibat diskriminasi terhadap beberapa wilayah.
Sebuah pepatah kuno dari prancis L'trisson ces rufete yang artinya sejarah senangtiasa selalu berulang. Dapatkah bangsa ini mengulang memory manis menyatukan perbedaan dalam bingkai NKRI, semoga bangsa ini bisa mengambil momentum kebangkitan dengan spirit from hystori.
Smoga.......


Tidak ada komentar:
Posting Komentar